Waspada Virus Nipah: Kemenkes Ingatkan Gejala, Cara Penularan, dan Tips Aman Konsumsi Buah

Waspada Virus Nipah – Kasus virus Nipah yang kembali muncul di India bikin kewaspadaan global ikut naik. Sejumlah negara seperti
Taiwan dan Thailand memperketat skrining di pintu kedatangan, sementara Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes)
mengingatkan masyarakat untuk paham gejala, cara penularan, dan langkah pencegahan sederhana di keseharian.
Ringkasan cepat
- Virus Nipah adalah penyakit zoonosis (dari hewan ke manusia) dengan fatalitas tinggi.
- Penularan bisa terjadi lewat makanan/buah terkontaminasi air liur/urine kelelawar, kontak dengan hewan terinfeksi, dan bisa juga antarmanusia pada situasi tertentu.
- Kemenkes mengimbau: hindari buah dengan bekas gigitan, cuci & kupas buah, jaga kebersihan, dan waspada gejala sampai 14 hari setelah perjalanan.
- Jika muncul gejala serius setelah bepergian ke area dengan laporan kasus, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Apa itu virus Nipah?
Nipah virus (NiV) adalah virus yang berasal dari hewan (zoonosis) dan dikenal bisa memicu penyakit berat, mulai dari gangguan pernapasan
hingga radang otak (ensefalitis). Dalam beberapa wabah, tingkat kematian dilaporkan tinggi, sehingga isu ini selalu dipantau ketat oleh otoritas kesehatan.
Kenapa dunia ikut waspada saat kasus muncul di India?
Saat ada laporan kasus/dugaan kasus di suatu wilayah, negara lain biasanya memperketat skrining pelaku perjalanan untuk menekan risiko kasus impor.
Taiwan dan Thailand termasuk yang memperketat pemantauan di pintu masuk, khususnya untuk pelaku perjalanan dari area yang dilaporkan memiliki kasus.
Baca Juga : Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: “Saya Hanya Bertanggung Jawab ke Presiden Prabowo”
Cara penularan yang perlu dipahami
Kemenkes menekankan bahwa penularan virus Nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia. Salah satu jalur yang sering dibahas adalah
konsumsi buah atau makanan yang terkontaminasi air liur/urine kelelawar (kelelawar buah dikenal sebagai reservoir alami virus ini).
Contoh situasi yang berisiko
- Makan buah yang tampak ada bekas gigitan kelelawar atau kondisinya tidak higienis.
- Konsumsi buah tanpa dicuci bersih atau tanpa dikupas (terutama jika sumbernya tidak jelas kebersihannya).
- Kontak dekat dengan hewan yang sakit/terinfeksi (tergantung konteks setempat).
Gejala yang perlu diwaspadai
Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk waspada jika setelah bepergian (terutama dari negara/wilayah yang melaporkan kasus),
dalam rentang hingga 14 hari muncul gejala berikut:
- Demam
- Batuk, pilek
- Sesak napas
- Mual/muntah
- Penurunan kesadaran
- Kejang
Imbauan Kemenkes: langkah pencegahan yang realistis
Pencegahan yang disorot Kemenkes itu sebenarnya basic (dan justru karena basic, sering diabaikan manusia). Fokusnya adalah mengurangi paparan dari makanan
dan memperkuat kebiasaan higienis.
1) Aman konsumsi buah
- Hindari mengonsumsi buah yang terlihat ada bekas gigitan kelelawar.
- Cuci buah dengan air mengalir, lalu kupas bila memungkinkan.
- Utamakan buah dari sumber yang bersih dan penyimpanan yang higienis.
2) Hindari kontak langsung dengan hewan yang diduga terinfeksi
Jika berada di area dengan laporan kasus pada hewan/manusia, hindari kontak langsung dengan hewan liar/ternak yang sakit, dan ikuti arahan otoritas setempat.
3) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
- Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir.
- Konsumsi makanan bergizi.
- Istirahat cukup.
- Aktif bergerak/olahraga ringan secara rutin.
Kalau kamu baru pulang dari luar negeri, lakukan ini
Untuk pelaku perjalanan yang baru kembali, Kemenkes meminta tetap waspada selama maksimal 14 hari. Kalau ada gejala seperti di atas,
segera periksa ke fasilitas kesehatan dan sampaikan riwayat perjalanan agar penanganannya tepat.
Catatan penting
Informasi di atas bersifat edukasi kesehatan masyarakat. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala berat (misalnya sesak napas, penurunan kesadaran, kejang),
jangan menunda mencari pertolongan medis.
