Jokowi Siap Mati-matian untuk PSI, Masih “Sakti” di Politik?

Jokowi Siap Mati-matian untuk PSI, Masih “Sakti” di Politik?

Jokowi Siap Mati-matian untuk PSI
Jokowi Siap Mati-matian untuk PSI

Jokowi Siap Mati-matian untuk PSI — Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan bekerja keras bahkan “mati-matian” untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Pernyataan itu langsung memunculkan pertanyaan publik: seberapa besar pengaruh politik Jokowi tanpa kursi kekuasaan?

Pandangan soal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno. Ia menilai, dukungan terbuka Jokowi terhadap PSI menjadi semacam “uji lapangan” apakah daya tarik Jokowi masih kuat untuk mendongkrak suara partai hingga lolos parlemen.

Analisis Pengamat: Ini Jadi “Uji Kesaktian” Jokowi

Menurut Adi, ada dua keyakinan yang berkembang:

  • Versi pertama: Jokowi masih punya pengaruh besar dan mampu membantu PSI menembus parlemen.
  • Versi kedua: pengaruh Jokowi menurun karena ia tidak lagi memiliki instrumen kekuasaan setelah tidak menjabat.

“Kalau PSI lolos, Jokowi akan disebut masih sakti. Kalau tidak lolos, pasti dikritik habis-habisan.”

Adi menegaskan, penentunya bukan sekadar nama besar, melainkan kerja organisasi dan kerja lapangan yang konsisten.

Kunci Menang Menurut Adi: Kerja Lapangan dan Struktur Akar Rumput

Dalam pandangannya, politik pada akhirnya soal kemampuan meyakinkan pemilih secara langsung, terutama pemilih akar rumput. Dukungan Jokowi memberi PSI “suntikan semangat”, tetapi tidak otomatis mengubah peta suara tanpa aktivitas yang nyata di lapangan.

Adi juga menilai posisi PSI yang terang-terangan berada di sisi Jokowi punya efek ganda:

  • Nilai plus: PSI mendapat “brand power” dari figur yang masih populer dan mudah dikenali.
  • Risiko minus: PSI bisa mendapat resistensi dari kelompok pemilih yang tidak sejalan dengan Jokowi.

Karena itu, ia menyebut PSI perlu menekan resistensi sambil tetap menjual sisi positif Jokowi secara terukur.

PR PSI: Jangan Hanya Kuat di Kota

Adi menyebut salah satu tantangan utama PSI adalah basis pemilihnya yang selama ini lebih identik dengan pemilih perkotaan. Sementara, jumlah pemilih di desa dan wilayah non-perkotaan sangat besar dan menentukan hasil pemilu.

Baca Juga : Harga BBM Turun per 1 Februari 2026, Ini Daftar Terbarunya

 

Ia menilai, PSI perlu memperluas penetrasi ke pemilih desa melalui pendekatan yang lebih membumi: jaringan, program, dan komunikasi langsung yang konsisten.

Belajar dari Pemilu 2024: “Kapitalisasi Jokowi” Dinilai Belum Maksimal

Adi mengingatkan bahwa pada Pemilu 2024, PSI sebenarnya sudah mulai mengaitkan diri dengan Jokowi, misalnya lewat atribut kampanye dan pesan komunikasi yang menonjolkan kedekatan tersebut. Namun menurutnya, penguatan figur itu dinilai belum dilakukan secara maksimal atau terkesan “setengah-setengah”.

Kesimpulan dari sisi pengamat: kalau PSI ingin efek elektoralnya terasa, dukungan figur harus diikuti mesin partai yang aktif sampai ke level bawah, bukan berhenti di simbol dan slogan.

Pernyataan Jokowi di Rakernas PSI Makassar

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan komitmennya saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). Ia menekankan pentingnya struktur partai yang hidup dan benar-benar bekerja hingga akar rumput.

“Kekuatan partai politik itu terletak pada struktur yang kuat… menyentuh betul-betul masyarakat terbawah.”

Jokowi juga menyatakan siap turun langsung jika dibutuhkan, termasuk mendatangi provinsi, kabupaten/kota, bahkan sampai tingkat kecamatan.

Kesimpulan: Pertaruhan Besar, Ukurannya Sederhana

Secara garis besar, analisis pengamat menempatkan dukungan Jokowi ke PSI sebagai pertaruhan politik yang terbaca jelas hasilnya:

  • Jika PSI lolos parlemen: narasi “Jokowi masih kuat” akan menguat.
  • Jika PSI gagal: kritik akan muncul bahwa pengaruh Jokowi sudah menurun setelah tidak lagi menjabat.

Namun yang paling menentukan tetap kerja partai sendiri: struktur, konsistensi turun ke bawah, dan kemampuan meyakinkan pemilih di luar basis tradisionalnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top