Harga Bitcoin Turun ke US$70.000-an, Analis Soroti Level Kritis di Tengah Tekanan Global

Harga Bitcoin Turun ke US$70.000-an, Analis Soroti Level Kritis di Tengah Tekanan Global

Harga Bitcoin Turun ke US$70.000-an
Harga Bitcoin Turun ke US$70.000-an

Harga Bitcoin Turun ke US$70.000-anHarga Bitcoin kembali melemah dan sempat menyentuh level US$70.000-an pada Kamis (4/2/2026), memperpanjang tren penurunan tajam untuk hari ketiga berturut-turut pekan ini. Pergerakan ini menegaskan bahwa sentimen pasar kripto sedang rapuh, terutama ketika investor global mengurangi eksposur ke aset berisiko.

Bitcoin Sempat Jatuh di Bawah US$70.600

Berdasarkan pantauan data perdagangan dari CoinMarketCap, Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$70.575 atau merosot lebih dari 8%. Setelahnya, harga bergerak di kisaran US$70.800, turun sekitar 7,5% dalam sehari.

Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sekitar US$126.000 pada Oktober lalu, posisi Bitcoin saat ini sudah turun lebih dari 40%—sebuah koreksi besar yang biasanya ikut memukul altcoin dan saham-saham terkait kripto.

Level US$70.000 Dinilai Jadi Area “Penentu”

Bitcoin sebelumnya juga telah menembus ke bawah US$73.000 pada Selasa, disebut sebagai level terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir dan mendekati area harga sebelum pemilu AS. Sejumlah analis menilai US$70.000 menjadi area krusial yang layak dipantau karena bisa menentukan apakah pelemahan berlanjut atau terjadi pantulan (relief bounce).

Penyebab Tekanan: Geopolitik, Ekonomi, dan Sentimen Risiko

Pelemahan Bitcoin kali ini tidak berdiri sendiri. Pasar menilai ada kombinasi faktor eksternal yang mendorong investor “cabut” dari aset berisiko, termasuk kripto:

  • Rotasi investor dari aset berisiko di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
  • Isu hubungan Amerika Serikat dan Eropa yang memanas seiring manuver politik terkait Greenland, memicu kehati-hatian pasar.
  • Efek pasca-penutupan sebagian pemerintahan AS yang sempat mengganggu jadwal rilis data ekonomi penting, membuat pasar kesulitan membaca arah fundamental jangka pendek.
  • Ekspektasi perubahan kebijakan moneter AS setelah munculnya dinamika terkait kandidat pimpinan bank sentral.
  • Melambatnya kemajuan regulasi kripto yang sebelumnya diharapkan lebih ramah industri, sehingga menekan optimisme investor.

Arus Keluar ETF Bitcoin Spot Dinilai Menggerus Likuiditas

Tekanan juga datang dari sisi likuiditas. Sejumlah analis menilai arus keluar institusional yang besar menggerus kedalaman pasar, sehingga penurunan harga lebih mudah terjadi saat jual-beli tidak seimbang.

 

Baca Juga : Gempa Pacitan M 6,4 Dini Hari 6 Februari 2026: Sejumlah Bangunan Dilaporkan Rusak, BPBD Masih Lakukan Pendataan

 

Produk ETF Bitcoin spot disebut mencatat arus keluar dana yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, antara lain:

  • Januari: lebih dari US$3 miliar
  • Desember: sekitar US$2 miliar
  • November: sekitar US$7 miliar

Arus keluar ini terjadi setelah periode volatilitas tinggi, termasuk gelombang likuidasi posisi kripto berleverage pada Oktober yang ikut memperbesar tekanan jual.

Dampak Menjalar ke Saham Terkait Kripto

Pelemahan Bitcoin turut menyeret aset-aset lain yang sensitif terhadap sentimen kripto. Sejumlah saham perusahaan yang punya eksposur besar ke Bitcoin dan industri penambangan kripto ikut terkoreksi, mencerminkan efek domino ketika pasar kripto memasuki fase “risk-off”.

Apa yang Dipantau Pelaku Pasar Selanjutnya?

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar biasanya fokus pada beberapa hal: apakah level US$70.000 bertahan, bagaimana arus dana institusional (terutama ETF) bergerak, serta perkembangan kebijakan moneter dan sentimen geopolitik yang memengaruhi aset berisiko.

Catatan risiko: Kripto adalah aset dengan volatilitas tinggi. Pergerakan harian yang tajam bisa terjadi, sehingga keputusan finansial sebaiknya mempertimbangkan profil risiko dan manajemen risiko yang matang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top