Ahok Kenang Meriyati Hoegeng: “Indonesia Tidak Kehabisan Orang Jujur dan Berintegritas”

Ahok Kenang Meriyati Hoegeng – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menegaskan bahwa Indonesia belum kehabisan sosok jujur dan berintegritas, meski bangsa ini kembali kehilangan figur teladan dengan wafatnya Meriyati Hoegeng. Pernyataan itu disampaikan Ahok saat menghadiri pemakaman Meriyati di Taman Pemakaman Giritama, Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/2/2026).
Meriyati dimakamkan di samping makam suaminya, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, yang dikenal luas sebagai simbol integritas dan pernah menjabat pada periode 1968–1971.
Ahok: “Jutaan Orang Jujur Masih Ada, Hanya Belum Muncul ke Permukaan”
Menurut Ahok, ada kecenderungan publik merasa seolah-olah bangsa ini sudah kehabisan orang benar. Padahal, ia meyakini masih banyak orang jujur yang bekerja dalam diam, tanpa sorotan.
“Kita sering berpikir seolah-olah orang jujur, orang benar, itu sudah tidak ada di bangsa ini. Padahal, sebetulnya masih ada jutaan orang jujur dan benar di bangsa ini. Tinggal kita tunggu saja,” kata Ahok.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa integritas bukan barang langka, tetapi sering tidak terlihat karena ruang publik lebih ramai oleh kebisingan ketimbang keteladanan.
Pesan Kejujuran, Keadilan, dan Keberanian Membela Kebenaran
Di mata Ahok, Meriyati Hoegeng adalah sosok orang tua yang konsisten menjaga nilai. Ia menyebut Meriyati kerap mengingatkan pentingnya kejujuran, keadilan, serta keberanian berdiri di pihak kebenaran dan kemanusiaan hingga akhir hayatnya.
Ahok juga mengungkap bahwa almarhumah sering menyampaikan pesan tertulis agar dirinya tetap berpegang pada nilai-nilai tersebut, termasuk saat berada dalam tekanan.
“Beliau seperti orang tua yang terus mengingatkan lewat tulisan untuk tetap jujur, tetap adil, dan berani berdiri untuk kebenaran serta kemanusiaan,” ujar Ahok.
Ahok Mengaku Mendampingi Meriyati di ICU Hingga Berpulang
Ahok menceritakan kedekatannya dengan Meriyati pada masa-masa terakhir almarhumah. Ia mengaku sempat mendampingi Meriyati saat dirawat di ruang ICU hingga berpulang.
“Saya menunggui beliau di ICU sampai beliau berpulang. Beliau berpulang dengan sangat tenang dan sangat menerima. Saya bilang, ‘Tuhan pasti menyediakan tempat yang terbaik buat Ibu Meri’,” kata Ahok.
Baca Juga : KPK Tetapkan 6 Tersangka Korupsi di Bea Cukai, Sita Barang Bukti Rp40,5 Miliar
Baginya, momen itu bukan sekadar perpisahan, melainkan penutup perjalanan seorang tokoh yang hidup dengan nilai dan meninggalkan pesan moral yang kuat.
Hubungan Layaknya Anak dan Orang Tua
Ahok mengatakan kedekatannya dengan Meriyati sudah seperti hubungan anak dan orang tua. Dalam doa pribadinya, ia selalu menyebut nama Eyang Meri, sebagaimana ia mendoakan ibunya sendiri.
“Hari ini saya datang untuk mengantar beliau ke tempat istirahat terakhir,” ujarnya.
Kenangan Saat Ahok Menjalani Masa Tahanan
Ahok juga mengenang kebaikan Meriyati ketika ia menjalani masa tahanan. Ia menyebut almarhumah tidak hanya memberi dukungan moral, tetapi juga menunjukkan perhatian nyata dengan memasak dan mengirimkan makanan secara langsung.
“Waktu saya di tahanan, beliau masak dan kirim makanan ke saya. Beliau selalu, bahkan datang langsung, terus kirim makanan,” ucap Ahok.
Kenangan tersebut mempertegas sosok Meriyati sebagai pribadi yang tidak sekadar memberi nasihat, tetapi juga hadir secara manusiawi, terutama saat orang lain sedang jatuh.
Warisan Nilai yang Ditinggalkan Meriyati Hoegeng
Kepergian Meriyati Hoegeng menjadi pengingat bahwa integritas selalu punya harga, dan keteladanan sering justru tampak dari hal-hal sederhana: konsistensi, kepedulian, dan keberanian memegang prinsip. Bagi Ahok, pesan almarhumah bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk publik yang masih berharap ada tokoh yang bisa dipercaya.
