Prabowo di Natal Nasional 2025: Kritik Itu “Mengamankan”, Singgung Tuduhan Militerisme

Prabowo di Natal Nasional 2025 – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan dirinya tidak alergi kritik. Dalam sambutannya di Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor GBK, Senayan, Jakarta, Prabowo juga menyinggung tudingan bahwa ia ingin “menghidupkan militerisme”, lalu menyebut perlunya mendengar pandangan ahli hukum soal batas kepemimpinan otoriter.
“Kalau Dikoreksi, Saya Anggap Saya Dibantu”
Dalam sambutannya, Prabowo mengatakan ia memilih bersyukur ketika dikritik. Menurutnya, kritik bukan sekadar suara bising,
melainkan bentuk kontrol yang bisa mencegah kesalahan.
Prabowo menggambarkan kritik sebagai koreksi yang “mengamankan”. Ia menilai tidak semua orang suka dikoreksi,
tetapi koreksi bisa membantu pemimpin tetap berada di jalur yang benar.
Baca Juga : Mesin Pertumbuhan Baru Grup Bakrie 2026: Emas, Tembaga, dan Kendaraan Listrik
Ia bercerita pernah diingatkan ajudannya karena atribut seragam tidak lengkap, termasuk ketika ia lupa memakai tanda pangkat.
Meski sempat merasa kesal, ia mengakui itu bentuk penjagaan agar dirinya tidak melakukan kesalahan di ruang publik.
Cerita Ajudan dan Seragam: Hal Kecil yang Bisa Jadi Pelajaran
Prabowo menekankan bahwa hal sederhana seperti diingatkan soal kelengkapan seragam pun punya makna:
ada orang yang berani mengoreksi, dan itu penting dalam sistem kepemimpinan.
Dalam konteks pemerintahan, ia menggambarkannya sebagai budaya kerja yang tidak menutup telinga terhadap masukan.
Inti pesannya:
- Kritik dan koreksi adalah bentuk pengawasan.
- Orang di sekitar pemimpin seharusnya berani mengingatkan.
- Masukan yang benar membantu mencegah kesalahan yang lebih besar.
Singgung Tuduhan “Militerisme”, Prabowo Minta Batas Otoriter Dibahas Ahli
Pada bagian lain, Prabowo menyinggung adanya pihak yang menuduh dirinya ingin “menghidupkan lagi militerisme”.
Ia mengatakan tudingan semacam itu membuatnya ingin mengecek ulang secara serius: apakah yang dilakukan benar mengarah ke sana,
atau sekadar stigma yang dilempar ke ruang publik.
Prabowo lalu menyebut perlunya memanggil ahli hukum untuk membahas secara jelas
batas kepemimpinan yang terlalu otoriter. Ia menyiratkan, penilaian terhadap praktik kekuasaan tidak boleh kabur,
harus ada parameter dan rujukan yang bisa diperdebatkan secara sehat.
Optimisme Prabowo: “Kita Kerja dengan Bukti, Bukan Janji”
Menutup pesannya, Prabowo menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki masa depan yang baik,
meski tetap akan ada kelompok yang bersikap nyinyir atau sinis terhadap pemerintah.
Ia menegaskan dirinya memilih menjawab kritik melalui kerja dan hasil yang bisa dilihat, bukan sekadar janji.
Dalam momentum acara keagamaan berskala nasional seperti Natal Nasional 2025, pernyataan Prabowo ini juga dibaca
sebagai pesan politik yang ingin menekankan dua hal: pemerintahannya terbuka pada koreksi,
dan perdebatan soal gaya kepemimpinan sebaiknya dibahas dengan dasar yang jelas, bukan hanya label.
