IHSG Anjlok Usai Sentuh 9.000, Ditutup 8.884 pada 12 Januari 2026

IHSG Anjlok Usai Sentuh 9.000 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level psikologis 9.000 di sesi pertama, namun berbalik melemah tajam di sesi kedua.
Pada akhirnya, IHSG menutup perdagangan Senin, 12 Januari 2026, di level 8.884,72 setelah sempat turun hingga 8.715,41.
IHSG Sempat 9.000, Lalu “Dijatuhkan” Sesi Kedua
Perdagangan awal pekan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berjalan dramatis. Setelah menyentuh level 9.000 di sesi pertama, IHSG tiba-tiba
turun bebas di sesi kedua. Pada pukul 14.34 WIB, indeks terkoreksi sekitar 2,48% ke 8.715,41.
Menjelang penutupan, IHSG sempat mencoba bangkit. Walau belum kembali ke zona hijau, rebound di akhir sesi cukup menahan tekanan sehingga
IHSG finis melemah 0,58% atau turun 52,03 poin ke 8.884,72.
Aktivitas transaksi tetap ramai. Nilai transaksi pasar tercatat mencapai Rp 39,85 triliun sepanjang hari. Menariknya, investor asing masih
membukukan net buy sekitar Rp 107,21 miliar (setara US$ 6,26 juta), jadi koreksi ini bukan semata cerita “asing kabur”.
Penjelasan Analis: Koreksi Sudah “Kebaca” Setelah IHSG Tembus 9.000
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyebut rontoknya IHSG sebenarnya sudah diperingatkan sejak beberapa hari
terakhir, terutama karena indeks sudah menyentuh level 9.000 yang secara psikologis sering memancing aksi ambil untung.
Baca Juga : Polda Metro Jaya Selidiki Dugaan Penipuan Trading Kripto
Rebound yang terjadi membuat IHSG kembali ditutup di atas 8.800, yang memberi sinyal bahwa buyer masih ada, hanya saja “napasnya” jadi pendek.
Minggu Ini Masih Berpotensi Volatil: Faktor Global Ikut Mengganggu
Menurut Kiwoom Sekuritas, pasar berpotensi tetap volatil selama sepekan ke depan. Salah satu pemicunya adalah tensi geopolitik global yang
memanas, mulai dari dinamika Amerika Serikat–Venezuela, isu Iran, sampai ketegangan yang melibatkan China dan Rusia.
Dalam situasi seperti ini, koreksi biasanya muncul bukan karena fundamental domestik tiba-tiba runtuh, melainkan karena pasar global sedang
“mode jaga-jaga”. Investor cenderung mengunci profit, mengurangi risiko, dan menunggu arah yang lebih jelas.
Area Teknis yang Disorot: Uptrend Masih Ada, Tapi Uji Support Menanti
Secara teknikal jangka menengah, IHSG disebut belum keluar dari pola uptrend channel. Namun, karena penutupan 12 Januari 2026 sudah lebih rendah
dari titik low perdagangan sebelumnya, Liza menilai eksekusi trailing stop wajar dipertimbangkan secara bertahap (sebagai manajemen risiko).
Jika tekanan berlanjut dan IHSG keluar dari uptrend channel, area yang disorot berikutnya ada di sekitar 8.660 sebagai support lower channel.
Artinya, pasar masih punya “bantalan”, tapi ruang konsolidasi tetap terbuka, terutama setelah euforia tembus 9.000.
Kesimpulan Suasana Pasar: Profit Taking + Sentimen Global
Intinya sederhana: setelah menyentuh 9.000, pasar butuh alasan yang lebih kuat untuk terus naik tanpa jeda. Saat katalis tambahan belum cukup
solid, profit taking biasanya jadi tombol yang paling gampang ditekan. Ditambah sentimen geopolitik global, hasilnya adalah koreksi tajam
intraday dan penutupan yang masih merah.
