Apa Itu Mokel? Arti, Asal Kata, dan Maknanya Saat Puasa Ramadan

Apa Itu Mokel? Arti, Asal Kata, dan Maknanya Saat Puasa Ramadan

Apa Itu Mokel
Apa Itu Mokel

Apa Itu Mokel – Bulan Ramadan selalu menghadirkan banyak fenomena menarik, termasuk dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Salah satu istilah yang kembali ramai dibicarakan setiap Ramadan adalah mokel. Kata ini sering muncul di percakapan santai, media sosial, hingga konten humor seputar puasa.

Meski terdengar ringan dan kerap dipakai dalam nada bercanda, mokel punya makna yang cukup serius dalam konteks ibadah. Istilah ini merujuk pada tindakan makan atau minum secara diam-diam saat masih menjalankan puasa, atau membatalkan puasa sebelum waktunya tanpa alasan yang dibenarkan.

Artikel ini membahas secara lengkap arti mokel, asal-usul katanya, penggunaannya dalam bahasa Indonesia, serta penjelasannya dari sisi budaya dan nilai keagamaan agar pembaca mendapatkan pemahaman yang utuh.

Arti Mokel dalam Bahasa Sehari-hari

Dalam pemakaian umum, mokel dipahami sebagai tindakan buka puasa diam-diam sebelum waktu berbuka tiba. Biasanya istilah ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tidak kuat menahan lapar atau haus, lalu makan atau minum secara sembunyi-sembunyi.

Di masyarakat, kata ini sering digunakan dalam kalimat santai seperti:

  • “Jangan mokel, tinggal sedikit lagi magrib.”
  • “Dia tadi kelihatan mokel pas siang.”
  • “Godaan puasa hari ini berat, jangan sampai mokel.”

Karena digunakan dalam percakapan informal, istilah ini lebih dekat dengan bahasa lisan dan budaya populer, terutama saat Ramadan.

Asal Usul Kata Mokel

Istilah mokel berasal dari bahasa Jawa, tepatnya bentuk tutur mokèl. Kata ini sejak lama dikenal di sejumlah wilayah Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Malang dan sekitarnya.

Seiring berkembangnya media sosial, istilah mokel tidak lagi terbatas pada penutur bahasa Jawa. Kata ini mulai dipakai secara luas oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya generasi muda yang aktif di platform digital.

 

Baca Juga : Jam Berapa Salat Tarawih Dimulai? Ini Batas Awal dan Akhir Tarawih serta Jadwal Ramadan 2026 di Jakarta

 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa daerah dapat menembus ruang nasional ketika istilahnya dianggap relevan, mudah diingat, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Mokel Sudah Masuk KBBI

Menariknya, kata mokel kini sudah dikenal lebih luas dalam ranah kebahasaan nasional dan telah digunakan sebagai entri dalam kamus daring. Secara makna, kata ini merujuk pada perbuatan makan atau minum secara sembunyi-sembunyi padahal sedang menjalankan ibadah puasa.

Meski begitu, penggunaannya tetap tergolong nonformal atau percakapan santai. Artinya, kata ini lebih tepat digunakan dalam konteks obrolan sehari-hari, media sosial, atau tulisan populer, bukan dalam dokumen resmi atau tulisan akademik formal.

Masuknya istilah daerah seperti mokel ke dalam kamus bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti realitas sosial dan budaya masyarakat. Bahasa memang hidup, dan manusia selalu menemukan cara kreatif untuk menamai kebiasaan mereka, termasuk yang seharusnya dihindari saat puasa.

Makna Mokel dalam Konteks Puasa Ramadan

Dalam konteks ibadah, mokel bukan sekadar istilah lucu-lucuan. Kata ini berkaitan dengan tindakan yang bertentangan dengan tujuan puasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Secara makna sosial, mokel juga sering dipakai sebagai bentuk sindiran halus atau pengingat antarteman agar tetap kuat menjalankan puasa sampai waktu berbuka. Karena itu, kata ini punya dua lapis fungsi:

  • Fungsi deskriptif: menyebut tindakan makan/minum diam-diam saat puasa.
  • Fungsi sosial: menjadi pengingat, candaan, atau kontrol sosial ringan di lingkungan pergaulan.

Namun, penting untuk tetap menggunakan istilah ini dengan bijak. Jangan sampai candaan tentang mokel berubah menjadi bahan merendahkan orang lain, apalagi jika tidak mengetahui kondisi sebenarnya.

Istilah Serupa di Berbagai Daerah

Kekayaan bahasa Indonesia juga terlihat dari adanya istilah serupa dengan makna yang sama di berbagai daerah. Selain mokel, masyarakat mengenal beberapa istilah lain untuk menyebut tindakan membatalkan puasa diam-diam, di antaranya:

  • Godin (digunakan di kalangan masyarakat Sunda)
  • Budim (singkatan dari “buka diam-diam”)
  • Mokah (istilah populer dengan makna serupa di beberapa komunitas)

Kehadiran istilah-istilah ini menunjukkan bahwa pengalaman sosial saat Ramadan melahirkan kosakata khas di banyak daerah. Ini juga memperlihatkan betapa kuatnya hubungan antara bahasa, budaya, dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Perspektif Islam tentang Mokel

Dari sudut pandang ajaran Islam, tindakan membatalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur yang dibenarkan tentu termasuk pelanggaran terhadap kewajiban puasa Ramadan. Karena itu, makna mokel tidak bisa dilepaskan dari aspek etika dan tanggung jawab ibadah.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri. Salah satu nilai penting dalam puasa adalah integritas, karena seseorang bisa saja makan diam-diam tanpa diketahui orang lain, tetapi tetap diketahui oleh Allah SWT.

Inilah sebabnya istilah mokel, meski sering dipakai dengan nada bercanda, tetap menyentuh pesan moral yang kuat. Ramadan mengajarkan umat Islam untuk jujur terhadap diri sendiri, menjaga niat, dan menahan diri bukan karena manusia, tetapi karena ketaatan kepada Allah.

Mengapa Istilah Mokel Populer di Media Sosial?

Popularitas kata mokel di media sosial bukan hal yang mengejutkan. Ada beberapa alasan kenapa istilah ini terus hidup dan bahkan makin viral setiap Ramadan:

  • Singkat dan mudah diingat, sehingga cocok dipakai dalam caption, meme, dan komentar.
  • Punya nuansa lokal yang terasa akrab dan unik.
  • Relevan secara musiman, karena selalu muncul kembali saat bulan puasa.
  • Sering dipakai dalam humor, terutama konten yang membahas godaan puasa.

Meski begitu, penggunaan istilah ini tetap sebaiknya dibarengi dengan kesadaran konteks. Humor boleh, tapi tetap menjaga adab dan tidak menormalisasi tindakan yang jelas bertentangan dengan nilai puasa.

Tips Menjaga Puasa agar Tidak “Mokel”

Karena mokel biasanya terjadi akibat rasa lapar, haus, atau godaan yang berat, ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu menjaga puasa tetap kuat hingga waktu berbuka:

  • Jangan lewatkan sahur, karena sahur membantu menjaga energi lebih lama.
  • Pilih makanan sahur yang mengenyangkan, seperti karbohidrat kompleks, protein, dan serat.
  • Kurangi aktivitas berlebihan di siang hari agar tidak cepat lemas.
  • Perbanyak aktivitas positif, seperti bekerja, belajar, membaca, atau ibadah ringan agar fokus terjaga.
  • Hindari konten pemicu lapar berlebihan kalau memang bikin goyah. Tidak semua godaan harus diuji, hidup sudah cukup sulit.
  • Bangun niat dan tujuan puasa sejak pagi agar lebih kuat secara mental.

Kesimpulan

Mokel adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa dan merujuk pada tindakan makan atau minum diam-diam saat sedang berpuasa. Kata ini kini semakin dikenal luas di Indonesia, bahkan populer di media sosial sebagai bagian dari percakapan khas Ramadan.

Meski sering digunakan dalam suasana santai, makna mokel tetap berkaitan dengan tindakan yang tidak dibenarkan dalam ibadah puasa. Karena itu, penting untuk memahaminya bukan hanya sebagai istilah lucu, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga kejujuran dan keteguhan saat menjalankan puasa Ramadan.

Di balik populernya istilah ini, ada pelajaran penting tentang kekayaan bahasa Indonesia yang tumbuh dari bahasa daerah, sekaligus nilai moral yang tetap relevan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top