BlackRock Tambah Saham BUMI, Sinyal Kuat untuk Emiten Batu Bara Grup Bakrie–Salim

BlackRock Tambah Saham BUMI, Sinyal Kuat untuk Emiten Batu Bara Grup Bakrie–Salim

BlackRock Tambah Saham BUMI
BlackRock Tambah Saham BUMI

BlackRock Tambah Saham BUMI — Pergerakan investor global kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia.
Raksasa manajemen aset asal Amerika Serikat, BlackRock Inc., tercatat kembali
mengakumulasi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada awal Desember 2025.
Langkah ini memantik perhatian pelaku pasar karena bertepatan dengan reli agresif saham BUMI
beberapa pekan terakhir.

BlackRock Tambah Kepemilikan Saham BUMI

Data Bloomberg mencatat bahwa hingga perdagangan Senin (8/12/2025), kepemilikan
BlackRock atas saham BUMI meningkat menjadi 1,91 miliar lembar, naik dari posisi akhir
November sebanyak 1,89 miliar lembar.

Pembelian terbaru BlackRock tercatat sebanyak 17.956 lembar saham pada 8 Desember.
Meski jumlahnya terbilang kecil secara harian, akumulasi tersebut menunjukkan konsistensi minat
BlackRock terhadap emiten batu bara yang merupakan kongsi Grup Bakrie dan
Grup Salim.

 

Baca Juga : Hogwarts Legacy Gratis di Epic Games Store, Klaim Sebelum 18 Desember!

 

Bagi konteks, BlackRock Inc. adalah institusi pengelola dana terbesar di dunia
dengan total aset kelolaan melebihi US$10 triliun. Masuknya mereka ke saham BUMI
sejak Maret 2024—dengan harga rata-rata Rp102 per saham—dinilai pasar sebagai sentimen kepercayaan
jangka panjang terhadap prospek bisnis Bumi Resources.

Saham BUMI Melesat: Reli 131% Dalam Sebulan

Dalam sebulan terakhir, saham BUMI mencatat penguatan luar biasa. Hingga Rabu (10/12/2025),
harganya telah melesat hampir 20% ke level Rp326 per saham.

Jika ditarik lebih panjang:

  • Reli 131% dalam 30 hari
  • Melejit 176% sejak awal tahun
  • Menjadi salah satu saham paling aktif ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Total nilai transaksi saham BUMI pada November 2025 mencapai Rp39,53 triliun
rekor tertinggi dalam satu dekade, naik hampir empat kali lipat dari bulan sebelumnya.
Lonjakan minat ini semakin menegaskan meningkatnya atensi investor, baik ritel maupun institusi.

Kinerja Keuangan BUMI: Pendapatan Naik, Laba Operasional Terdongkrak

Menurut laporan keuangan hingga September 2025, BUMI mencatat performa positif meski pasar batu
bara global sedang mengalami tekanan harga.

Ringkasan Kinerja September 2025:

  • Pendapatan: US$1,03 miliar (naik 11,9% YoY)
  • Beban Pokok Penjualan: US$876 juta (naik 5,1% YoY)
  • Beban Usaha: US$76,9 juta (naik 12,8% YoY)
  • Laba Usaha: US$84,4 juta (melonjak 231,9% YoY)
  • Laba Bersih: US$60,1 juta (turun 56% YoY)

Dari sisi operasional, BUMI mencatat:

  • Produksi: 54,9 juta ton
  • Penjualan: 54,5 juta ton

Manajemen BUMI menjelaskan bahwa meski menghadapi penurunan harga komoditas, perusahaan
tetap mampu menjaga profitabilitas melalui efisiensi biaya dan pengendalian operasional yang ketat.

“Meskipun kondisi pasar menantang, Bumi Resources berhasil mencatatkan profitabilitas operasional
yang positif. Efisiensi dan pengelolaan biaya yang disiplin menjadi kuncinya,”
tulis pihak manajemen BUMI dalam keterangannya.

Strategi Jangka Panjang: Efisiensi, Ketahanan Pasok, dan Diversifikasi

BUMI menegaskan komitmennya untuk memperkuat struktur biaya, meningkatkan stabilitas rantai
pasok, dan memperluas diversifikasi portofolio, termasuk masuk ke mineral strategis. Langkah ini
dinilai penting untuk menjaga daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

Untuk tahun 2025, BUMI menargetkan:

  • Penjualan batu bara: 73–75 juta ton
  • Harga jual rata-rata: US$59–61 per ton

Target tersebut mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap kondisi pasar dan kemampuan internal
untuk tetap adaptif.

Apa Arti Akumulasi BlackRock untuk Investor?

Bagi pelaku pasar, tambahan kepemilikan BlackRock biasanya dibaca sebagai sinyal bullish
terhadap prospek fundamental perusahaan. Institusi global sekelas BlackRock tentu tidak
mengambil keputusan tanpa analisis mendalam.

Beberapa implikasi positif bagi investor ritel:

  • Memberi konfirmasi kepercayaan institusi global terhadap BUMI
  • Memperkuat persepsi pasar terhadap potensi pertumbuhan emiten
  • Meningkatkan likuiditas saham di BEI
  • Mendorong minat investor baru, baik lokal maupun asing

Namun demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko sektor batu bara, seperti
volatilitas harga global, regulasi lingkungan, dan transisi energi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top