Hukum Salat Tarawih dan Witir di Bulan Ramadan 1447 H: Wajib atau Sunnah?

Hukum Salat Tarawih dan Witir di Bulan Ramadan 1447 H — Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, banyak umat Islam mulai menata kembali rutinitas ibadah malam, terutama salat tarawih dan salat witir. Pertanyaan yang paling sering muncul pun sederhana tapi penting: apakah tarawih dan witir itu wajib, atau hanya sunnah?
Jawabannya perlu dijelaskan dengan rapi, berdasarkan kaidah fikih dan penjelasan ulama, supaya ibadah dijalankan dengan tenang, bukan karena ikut-ikutan atau rasa takut yang salah alamat.
Apa Itu Salat Tarawih?
Secara istilah, salat tarawih adalah salat sunnah yang dikerjakan khusus pada malam-malam Ramadan setelah salat Isya. Nama “tarawih” berasal dari kata yang bermakna istirahat, merujuk pada kebiasaan jeda duduk di antara rangkaian rakaat karena salatnya relatif panjang dan dilakukan berjamaah.
Tarawih menjadi salah satu ciri khas Ramadan karena ia menghidupkan malam dengan ibadah yang terstruktur, terutama jika dilakukan berjamaah di masjid atau musala.
Hukum Salat Tarawih: Sunnah, Bukan Wajib
Mayoritas ulama sepakat bahwa salat tarawih hukumnya sunnah, bahkan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan karena berkaitan langsung dengan amalan “qiyam Ramadan” (menghidupkan malam Ramadan).
Dasar umumnya merujuk pada hadits tentang keutamaan menghidupkan Ramadan dengan ibadah malam:
“Barang siapa yang menghidupkan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Walaupun kata “tarawih” tidak disebut secara eksplisit dalam teks hadits tersebut, para ulama menjelaskan bahwa praktik yang paling dikenal sebagai wujud qiyam Ramadan dalam tradisi jamaah adalah tarawih. Karena itu, tarawih dipahami sebagai bentuk paling nyata dari menghidupkan malam Ramadan bagi kebanyakan kaum muslimin.
Baca Juga : Mike Tyson vs Floyd Mayweather “Stumble in the Jungle” Dikabarkan Sepakat Digelar 25 April di DR Kongo
Keutamaan Tarawih: Kenapa Sangat Dianjurkan?
Tarawih dianjurkan karena menggabungkan beberapa nilai ibadah sekaligus:
- Konsistensi: dilakukan rutin setiap malam Ramadan.
- Qiyamullail: melatih disiplin ibadah malam yang berat tapi berharga.
- Kebersamaan: memperkuat semangat jamaah, terutama di masjid.
- Momentum tazkiyah: membantu membersihkan hati lewat Al-Qur’an dan dzikir yang menyertai suasana tarawih.
Apa Itu Salat Witir?
Salat witir adalah salat malam dengan jumlah rakaat ganjil yang dikerjakan setelah Isya hingga sebelum Subuh, dan lazim dijadikan penutup rangkaian salat malam. Dalam praktik Ramadan, witir sering dikerjakan setelah tarawih, baik 1 rakaat, 3 rakaat, atau lebih sesuai kebiasaan setempat dan kemampuan.
Karena witir “penutup”, banyak ulama menganjurkan agar seseorang menjadikannya salat terakhir di malam hari jika ia tidak berniat bangun lagi untuk tahajud. Namun jika ingin tahajud, ia boleh witir di akhir malam.
Hukum Salat Witir: Sunnah Muakkadah, Ada Pendapat Berbeda
Secara umum, mayoritas ulama menyatakan salat witir hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Artinya, bukan wajib, tetapi sebaiknya jangan ditinggalkan tanpa alasan karena Rasulullah SAW sangat menjaga witir.
Namun, ada catatan penting: mazhab Hanafiyah menilai witir sebagai wajib dalam kategori kewajiban mazhab mereka, meski tetap bukan termasuk salat fardhu lima waktu.
Salah satu dasar anjuran witir adalah hadits tentang anjuran berwitir:
“Berwitirlah kalian, wahai ahli Al-Qur’an, karena Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil.”
Kesimpulan singkatnya: menurut mayoritas, witir tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan. Menurut Hanafiyah, witir wajib (dalam klasifikasi mazhab), sehingga mereka lebih ketat dalam menjaga witir.
Tarawih dan Witir: Mana yang Lebih “Wajib” Dijaga?
Kalau kamu bertanya mana yang lebih “harus” dijaga, jawaban aman dan praktisnya:
- Tarawih: sunnah khusus Ramadan, sangat dianjurkan, terutama berjamaah.
- Witir: sunnah muakkadah (dan oleh sebagian mazhab dianggap wajib), dianjurkan sebagai penutup salat malam.
Jadi kalau kamu hanya sanggup memilih karena kondisi tertentu (capek kerja, sakit, perjalanan), maka minimal jangan tinggalkan witir, karena ia ringan dan bernilai tinggi. Tapi idealnya, tarawih dan witir dijaga bersama.
Praktik Aman untuk Pemula: Biar Konsisten Sepanjang Ramadan
Ramadan itu maraton, bukan sprint. Biar tidak “gas di awal lalu hilang”, ini pola yang realistis:
- Mulai dari tarawih dengan kemampuanmu (tidak perlu memaksakan diri berlebihan).
- Pastikan tetap menutup malam dengan witir.
- Fokus pada kualitas: khusyuk, paham niat, dan menjaga adab.
- Kalau tidak sempat ke masjid, salat di rumah tetap sah.
Penutup
Memahami hukum salat tarawih dan salat witir membantu kita beribadah dengan lebih sadar. Tarawih adalah sunnah Ramadan yang sangat dianjurkan, sementara witir adalah sunnah muakkadah yang sangat ditekankan (dan menurut sebagian mazhab dinilai wajib).
Yang paling penting: jalankan ibadah dengan ilmu, niat yang benar, dan strategi yang membuatmu konsisten sampai akhir Ramadan. Itu yang biasanya bikin hasilnya terasa nyata, bukan cuma ramai di awal.
