IHSG Anjlok Pagi Ini, Pasar Tunggu Data PMI dan Inflasi

IHSG Anjlok Pagi Ini, Pasar Tunggu Data PMI dan Inflasi

IHSG Anjlok Pagi Ini
IHSG Anjlok Pagi Ini

IHSG Anjlok Pagi Ini— Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin dalam pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Hingga pukul 09.30 WIB, IHSG tercatat turun 4,35% ke level 7.969,03.

Tekanan terlihat merata di pasar. Dari sisi breadth, mayoritas saham bergerak turun sejak awal sesi.

Ringkasan Pergerakan IHSG (Pagi, 2 Februari 2026)

  • IHSG: turun 4,35% ke 7.969,03 (hingga 09.30 WIB)
  • Pembukaan: melemah 0,28% ke 8.306,16
  • 12 menit setelah buka: sempat ambles 3,44% ke 8.043,11
  • Jumlah saham turun: 630
  • Jumlah saham naik: 78
  • Stagnan: 252
  • Volume: 16,46 miliar saham
  • Frekuensi: 1 juta kali transaksi
  • Nilai transaksi: Rp9,77 triliun

Kenapa IHSG Turun Tajam Hari Ini?

Pelemahan IHSG hari ini terjadi setelah saham-saham emiten tambang dan perdagangan emas kompak terkoreksi. Pemicu utamanya: harga acuan emas global melemah signifikan pada akhir pekan, yang langsung menekan sentimen di saham-saham terkait emas di pembukaan perdagangan.

Di awal Februari 2026, pasar keuangan Indonesia juga diperkirakan masih volatil karena kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang terjadi berbarengan. Salah satu isu eksternal yang ikut menambah tensi adalah kabar partial shutdown pemerintahan Amerika Serikat, sementara dari sisi domestik pelaku pasar masih mencermati dinamika internal pasar keuangan.

Sentimen Pekan Ini: Data PMI, Inflasi, dan Neraca Dagang

Selain faktor komoditas, pelaku pasar juga menunggu rilis data ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah IHSG, rupiah, dan pasar SBN.

1) PMI Manufaktur (S&P Global) – Januari 2026

Hari ini, S&P Global dijadwalkan merilis PMI Manufaktur untuk Januari 2026. Sebagai konteks, PMI Indonesia pada Desember 2025 tercatat 51,2, yang berarti masih berada di fase ekspansi (di atas level 50), meski lajunya cenderung melandai dibanding periode sebelumnya.

 

Baca Juga : Red Notice Interpol Berlaku 5 Tahun Dikeluarkan Untuk Rizal Chalid, Bisa Diperpanjang

 

Data PMI biasanya diperhatikan karena memberi sinyal cepat tentang kondisi permintaan, produksi, hingga arus pesanan baru di sektor manufaktur.

2) Inflasi Januari 2026 (BPS)

Badan Pusat Statistik (BPS) juga dijadwalkan merilis data inflasi Januari 2026. Konsensus pasar memperkirakan inflasi bulanan cenderung rendah sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibanding Desember 2025 yang tercatat 0,64%.

Jika inflasi benar-benar melandai, pasar biasanya menilai ada ruang napas lebih besar dari sisi stabilitas daya beli dan ekspektasi kebijakan.

3) Neraca Dagang Desember 2025 dan Sepanjang 2025

Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang Desember 2025 serta kinerja neraca dagang sepanjang 2025.

Perkiraan pasar menyebut surplus pada Desember 2025 berpotensi mencapai US$ 5,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang sekitar US$ 2,66 miliar. Data ini kerap diperhatikan karena dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap fundamental eksternal, aliran valas, dan sentimen rupiah.

Catatan untuk Pembaca

Angka pergerakan IHSG dan statistik transaksi di atas adalah kondisi pagi hari (hingga sekitar 09.30 WIB). Pergerakan pasar dapat berubah cepat seiring masuknya berita, rotasi sektor, serta respons investor terhadap rilis data ekonomi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top