Ini Yang Terjadi Pasca Maduro Ditangkap Di Venezuela

Caracas mendadak terasa “menahan napas”. Setelah kabar penangkapan dan pemindahan
Nicolás Maduro (presiden Venezuela selama 12 tahun terakhir) menyebar luas, warga di ibu kota dan beberapa kota besar lain
dilaporkan memilih diam, banyak yang tetap di rumah, dan hanya keluar untuk kebutuhan yang benar-benar penting.Gambaran umumnya bukan suasana panik massal, melainkan tenang yang tegang.
Di sejumlah titik, jalanan terlihat sepi, tetapi antrean muncul di supermarket dan apotek.
Banyak orang berbelanja secukupnya, semacam “stok aman” kalau-kalau muncul bentrokan, gangguan distribusi, atau penjarahan.
Bagi warga Venezuela, kebiasaan bersiap saat krisis bukan hal baru.

Caracas Sunyi, Antrean Ada, Tapi Bukan Panic Buying

Rekaman video yang beredar memperlihatkan jalanan yang cenderung kosong di beberapa area, sementara antrean mengular di titik kebutuhan pokok.
Seorang jurnalis menggambarkan suasana kota yang sunyi sampai terdengar “burung bernyanyi” lebih jelas dari biasanya.
Di saat yang sama, aparat keamanan disebut dalam kondisi siaga.

Belanja kebutuhan pokok
Isi stok obat
Pantau keamanan lingkungan
Cek bisnis/toko dari risiko penjarahan
Mengurangi aktivitas malam

Polanya konsisten: bukan euforia publik, bukan juga kepanikan liar. Lebih ke mode “siaga pelan-pelan” sambil menunggu arah politik jelas.

Minim Colectivos di Jalanan, Euforia Oposisi Masih “Diam-Diam”

Salah satu hal yang dicatat di lapangan adalah minimnya kemunculan colectivos,
kelompok paramiliter pro-pemerintah yang selama bertahun-tahun sering disebut berperan menjaga pengaruh rezim di ruang publik.
Ini tidak otomatis berarti mereka hilang, tetapi pada momen awal pascapenangkapan, tanda-tanda mereka di jalanan tidak dominan.

 

Baca Juga : Hari Pertama Kerja 2026 di Kantor Gubernur Maluku: Kehadiran ASN Rendah, 117 Orang Absen Tanpa Keterangan

 

Di sisi lain, pendukung oposisi dilaporkan merayakan secara tertutup.
Hampir tidak ada pawai besar atau demonstrasi terbuka mendukung aksi Amerika Serikat.
Alasannya masuk akal: situasi masih sangat cair, dan publik cenderung menunggu apakah tokoh oposisi punya dukungan nyata dari pejabat negara
atau komandan militer Venezuela. Tanpa sinyal itu, banyak orang memilih aman dulu.

Dari Maracaibo sampai Maracay: Campuran Takut dan Harap

Informasi dari luar Caracas tidak selalu deras, tetapi beberapa laporan menggambarkan pola yang mirip:
antrean belanja, kota terasa lengang, dan warga memikirkan skenario terburuk.
Ada yang keluar hanya untuk mengecek tempat usaha karena khawatir penjarahan.
Ada juga yang ingin mengisi bahan bakar, namun mendapati stasiun layanan sudah tutup.

Suasana batin warga pun kompleks. Sebagian orang menyebut merasakan campuran “takut dan gembira”:
gembira karena perubahan mungkin datang, takut karena perubahan itu bisa kacau.
Dan dalam transisi politik, dua emosi itu sering muncul berpasangan.

Siapa Memegang Kendali? Militer Jadi Kunci, Transisi Masih Kabur

Pertanyaan paling besar saat ini bukan “apa yang terjadi kemarin”, melainkan “siapa yang memegang kendali hari ini”.
Banyak analis menilai posisi Angkatan Bersenjata Venezuela akan sangat menentukan: apakah mereka mempertahankan status quo,
memfasilitasi transisi, atau terbelah.

Di atas kertas, Konstitusi Venezuela mengatur bahwa Delcy Rodríguez sebagai pejabat yang ditunjuk untuk peran kepemimpinan sementara
harus menginisiasi pemilu baru dalam 60 hari.
Namun, wajar jika publik bertanya: bagaimana mekanisme transisi itu berjalan, siapa yang mengawasi, dan apakah prosesnya bisa dipercaya.

“Apa rencana transisinya? Siapa yang mengatur pemilu? Dan bagaimana kita bisa percaya prosesnya?”
Pertanyaan semacam ini muncul berulang, karena krisis politik di Venezuela sudah berlangsung lama dan kepercayaan publik tergerus.

Kekhawatiran Baru: “Keputusan untuk Venezuela Ditentukan dari Gedung Putih?”

Di tengah kegembiraan sebagian pihak, muncul juga kekhawatiran yang berbeda:
jangan-jangan masa depan Venezuela ditentukan dari Washington.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela sampai ada transisi
memicu perdebatan serius, termasuk di kalangan warga Venezuela sendiri dan diaspora.

Di satu sisi, ada yang menganggap itu kesempatan memutus kebuntuan politik.
Di sisi lain, ada yang menilai itu menciptakan ketidakpastian baru: bentuk kontrolnya seperti apa, siapa yang menjalankan di lapangan,
dan apa batas waktunya.
Ketika jawaban belum jelas, wajar jika orang memilih menunggu dalam diam.

Pemerintah Menampilkan Narasi “Kontinuitas”, Media Negara Kirim Pesan Perlawanan

Di media pemerintah dan kanal pro-rezim, narasi yang muncul cenderung menekankan “kontinuitas”:
rezim diklaim tetap berjalan walau figur presiden tidak ada.
Beberapa pesan yang ditayangkan bersifat menantang, mengangkat kembali warisan Hugo Chávez
dan gerakan Bolivarian sebagai simbol kedaulatan.

Sementara itu, otoritas juga menyatakan bandara internasional utama tetap beroperasi.
Majelis Nasional disebut tetap akan dilantik sesuai jadwal.
Semua itu memberi sinyal: pemerintah ingin menunjukkan sistem masih “hidup”, meski pusat kekuasaan sedang bergeser.

Apa Berikutnya? Venezuela Masuk Babak Baru yang Sangat Tidak Pasti

Dalam hitungan hari, Venezuela bergerak dari krisis yang “stabil” menuju krisis yang “bergerak”.
Jalanan bisa saja tetap tenang, atau justru meledak jika ada pemicu.
Pemilu bisa jadi jalan keluar, atau jadi sumber konflik baru jika legitimasi dipertanyakan.

Untuk saat ini, gambaran paling jujur adalah ini:
warga menahan napas, politik belum punya bentuk final, dan aktor yang paling menentukan ada pada militer dan elite dalam negeri,
bukan sekadar siapa yang paling keras bersuara di panggung internasional.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top