Mesin Pertumbuhan Baru Grup Bakrie 2026: Emas, Tembaga, dan Kendaraan Listrik

Jika selama ini publik mengenal Grup Bakrie lewat cerita panjang komoditas energi, maka memasuki tahun 2026 arahnya mulai terlihat
lebih “masa depan”. Fokusnya bergeser ke dua mesin baru: mineral strategis (terutama emas dan tembaga) dan
teknologi mobilitas rendah emisi.Logikanya sederhana: dunia lagi mencari aset yang punya added value lebih tinggi dan relevan dengan transisi energi. Emas tetap jadi “pelampung” saat
ketidakpastian naik, sementara tembaga jadi bahan kunci untuk elektrifikasi: dari jaringan listrik, baterai, hingga kendaraan listrik.
Di sisi lain, Indonesia juga sedang mendorong ekosistem kendaraan listrik yang lebih serius, terutama di segmen komersial.

Arah baru yang terlihat di 2026

  • Dari volume ke nilai tambah: bukan hanya menggali, tapi mengoptimalkan margin dan positioning pada komoditas “strategis”.
  • Dari satu sumber pendapatan ke multi mesin: emas, tembaga, dan mobilitas listrik punya karakter risiko yang berbeda.
  • Dari narasi lama ke relevansi baru: mineral kritis dan teknologi hijau adalah tema global yang sedang dicari investor.

BRMS Jadi “Permata Mahkota”: Emas Naik, Tembaga Mulai Masuk Cerita

Di dalam portofolio grup, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) disebut-sebut sebagai sorotan utama karena berada di fase ekspansi produksi.
Target yang beredar di pasar menempatkan proyeksi produksi emas organik BRMS dapat meningkat hingga sekitar
80.000 troy ounce pada 2026 (angka proyeksi, bergantung pada realisasi operasional).

Timing-nya juga “enak” (setidaknya di atas kertas): harga emas global dikisahkan bertahan pada level tinggi,
sehingga setiap kenaikan produksi punya efek langsung ke pendapatan dan potensi laba. Tapi daya tarik paling besar di 2026 bukan cuma emas.

Hal yang paling banyak dibicarakan adalah rencana dimulainya operasi komersial Gorontalo Minerals (GM) sekitar pertengahan tahun.
Proyek ini diposisikan sebagai aset yang membawa tembaga dan emas sekaligus. Dan di sinilah perubahan profil BRMS terasa:
dari “produsen emas” menjadi pemain logam strategis yang punya peluang ikut menikmati tema transisi energi.

 

Baca Juga : Prabowo di Natal Nasional 2025: Kritik Itu “Mengamankan”, Singgung Tuduhan Militerisme

 

Tembaga sering disebut material kunci elektrifikasi karena dibutuhkan untuk kabel, motor listrik, sistem transmisi, hingga infrastruktur energi.
Ketika tembaga masuk portofolio, pasar biasanya mulai menilai ulang (re-rating) karena konteksnya jadi lebih “strategis”.

Yang membuat BRMS menarik dipantau

  • Eksekusi ekspansi produksi emas dan konsistensi biaya produksi.
  • Kick-off Gorontalo Minerals sebagai pintu masuk tembaga.
  • Potensi perubahan persepsi pasar: dari perusahaan emas ke “emas + tembaga”.

Catatan penting: semua target dan ekspektasi akan sangat ditentukan oleh realisasi produksi, timeline proyek, serta kondisi harga komoditas.

DEWA Berubah Arah: Dari Kontraktor Margin Tipis ke Pemilik Aset

Cerita kedua datang dari PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Jika sebelumnya DEWA lebih dikenal sebagai kontraktor pertambangan,
maka arah transformasi yang dibicarakan adalah menjadikannya pemilik aset agar bisa menangkap nilai ekonomi komoditas lebih “penuh”.
Ini bukan perubahan kecil, karena mengubah cara perusahaan menghasilkan uang dan mengelola risiko.

Salah satu yang sering disebut adalah keterkaitan DEWA dengan Gayo Mineral Resources di Aceh,
yang digambarkan memiliki potensi emas dan tembaga. Selain itu, ada narasi tentang
pengambilalihan operasional penuh tambang Bengalon pada 2026, yang berarti kebutuhan tenaga kerja, modal kerja,
dan sistem operasional yang lebih matang.

Dari sisi tata kelola finansial, DEWA juga dikaitkan dengan penguatan permodalan, termasuk kabar fasilitas kredit besar dari bank papan atas
seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Ditambah isu kuasi-reorganisasi untuk merapikan defisit masa lalu,
pasar membaca ini sebagai sinyal “beresin dapur” supaya DEWA bisa lebih fleksibel di fase berikutnya.

Uji realita dari transformasi DEWA

  • Eksekusi operasional saat beralih dari jasa ke pengelolaan aset.
  • Manajemen modal (capex, tenaga kerja, dan efisiensi biaya).
  • Perbaikan struktur keuangan agar pertumbuhan tidak “dimakan” beban.

VKTR dan Elektrifikasi Komersial: Bukan Gimmick, Ini Pasar yang Nyata

Di sisi teknologi, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) membawa narasi yang berbeda: bukan tambang, tapi
kendaraan listrik komersial berat. Fokusnya bukan gaya-gayaan, melainkan segmen yang benar-benar dipakai tiap hari:
bus listrik, truk logistik, hingga bus karyawan.

Nama Transjakarta sering muncul karena menjadi salah satu proyek besar bus listrik di Indonesia.
Keunggulan yang disorot adalah aspek TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) yang diklaim telah melampaui ambang tertentu,
sehingga memberi nilai tambah dalam tender dan ekosistem industri lokal.

VKTR juga dikaitkan dengan kesiapan pabrik perakitan model CKD (Completely Knocked Down) di Magelang,
yang secara bisnis bisa membantu efisiensi biaya, percepatan perakitan, dan fleksibilitas distribusi unit.
Selain jalur pemerintah (B2G), VKTR juga mengarah ke pasar korporasi (B2B).

Ringkas: posisi VKTR di narasi 2026

Fokus Kenapa relevan Hal yang menentukan
Bus listrik & kendaraan listrik komersial Pasar utilitas harian, dampaknya langsung ke biaya operasional dan emisi Skala produksi, kemampuan memenuhi pesanan, dan kualitas layanan purna jual
TKDN & ekosistem lokal Nilai kompetitif pada proyek-proyek domestik dan penguatan rantai pasok Stabilitas komponen lokal, efisiensi biaya, dan konsistensi standar
Pabrik CKD Magelang Mendorong efisiensi dan mempercepat delivery unit Utilisasi pabrik dan manajemen biaya ekspansi

Kesimpulan: Bakrie Sedang Menukar “Cerita Lama” dengan Tema 2026

Kalau dirangkum tanpa drama, mesin pertumbuhan Grup Bakrie mulai bergeser dari ketergantungan narasi energi fosil
menuju kombinasi mineral strategis dan teknologi hijau. Di atas kertas, ini membuka peluang profil
risiko-imbal hasil yang lebih menarik karena margin dan valuasi bisa “naik kelas” jika eksekusi berjalan rapi.

Tiga kunci yang paling menentukan di 2026 adalah:
eksekusi operasional Gorontalo Minerals oleh BRMS, kemampuan DEWA mengelola pergeseran model bisnisnya,
serta penetrasi VKTR di pasar kendaraan listrik komersial yang makin kompetitif.

Artikel ini disajikan untuk informasi dan konteks bisnis-pasar, bukan ajakan membeli atau menjual instrumen investasi apa pun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top