Saham RLCO Meroket Sejak IPO: Sudah 17 Kali ARA Beruntun

Lonjakan Harga: Dari Rp168 ke Area Rp3.210

Mengacu pada harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp168 per saham,
kenaikan sekitar 1.810,17% membuat harga RLCO dilaporkan sudah berada di kisaran Rp3.210.
Dalam periode sejak pencatatan, RLCO juga disebut 17 kali menyentuh Auto Reject Atas (ARA) secara beruntun,
atau dengan kata lain, reli hariannya belum “putus” sejak debutnya di papan perdagangan.

Ringkasan Angka Kunci (berdasarkan informasi yang beredar):

Parameter Nilai Konteks
Tanggal IPO 8 Desember 2025 Mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Harga IPO Rp168 Harga penawaran awal
Kenaikan sejak IPO ± 1.810,17% Kenaikan akumulatif dari harga IPO
Harga (kisaran) ± Rp3.210 Estimasi level setelah reli
Rekor ARA 17 kali berturut-turut Disebut belum putus sejak IPO

Catatan: Angka di atas mengikuti data yang disebutkan dalam informasi yang beredar, dan bisa berubah seiring perdagangan berjalan.

Lebih “Gila” dari Rekor IPO CDIA

Rekor 17 kali ARA ini juga ramai karena disebut melewati catatan emiten Chandra Daya Investasi (CDIA)
yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, yang sebelumnya dikenal mencetak 11 kali ARA beruntun pada fase IPO.
Perbandingan ini membuat RLCO makin sering dibahas di komunitas pasar modal, baik oleh investor ritel maupun pelaku perdagangan harian.

Sempat Disuspensi dan Masuk Pemantauan Khusus

Di tengah reli, RLCO juga disebut sempat mengalami dua kali suspensi oleh Bursa Efek Indonesia.
Bahkan, RLCO dikabarkan masuk papan pemantauan khusus dan diperdagangkan memakai skema
Full Call Auction (FCA) selama sekitar sepekan.
Namun menariknya, berbagai mekanisme tersebut tidak menghentikan laju kenaikan: RLCO tetap mencatat penguatan harian yang disebut mencapai batas ARA.

Profil Bisnis: Holding Realfood dan Ekspor Sarang Burung Walet

Dari sisi bisnis, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk disebut sebagai holding dari merek Realfood,
yang dikenal membawa produk premium bertema kesehatan. Salah satu lini yang menjadi sorotan adalah bisnis
ekspor sarang burung walet olahan.

 

Baca Juga : Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis Temui Jokowi di Solo, Pertemuan Digelar Tertutup

 

Disebutkan pula, ekspor sarang burung walet olahan ke pasar China dijalankan oleh Abadi Lestari Indonesia,
sedangkan ekspor ke pasar non-China dilakukan melalui entitas anak. Struktur ini biasanya dipakai perusahaan untuk menyesuaikan
kebutuhan regulasi, jalur distribusi, hingga strategi pasar yang berbeda.

Pengurus Perusahaan: Ada Nama Achmad Baiquni

Dari sisi tata kelola, prospektus RLCO disebut memuat nama bankir senior Achmad Baiquni sebagai
Komisaris Utama. Achmad Baiquni dikenal publik sebagai mantan Direktur Utama
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Kehadiran figur dengan rekam jejak di industri perbankan BUMN sering dianggap memperkuat aspek governance dan kredibilitas pengawasan perusahaan,
meski tetap perlu dilihat bagaimana implementasi tata kelola berjalan dari waktu ke waktu.

Kinerja Keuangan: Laba Bersih Melejit, Pendapatan Ikut Naik

Dari sisi performa, perusahaan disebut mencatat kenaikan laba bersih yang signifikan per Mei 2025,
yakni naik sekitar 608% menjadi Rp12,3 miliar, dari Rp1,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba ini disebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih yang juga menguat.

Rincian yang disebutkan dalam kinerja per Mei 2025:

  • Pendapatan bersih: Rp231,3 miliar (naik 48% dari Rp156,8 miliar).
  • Kontribusi pendapatan: 88,48% dari penjualan sarang burung olahan, 11,52% dari produk konsumen.
  • Ekspor: Rp205 miliar (naik 47,5% dari Rp139 miliar).
  • Penjualan lokal: Rp27 miliar (naik 58,8% dari Rp17 miliar).

Kenapa RLCO Jadi Magnet: Cerita “Supply-Demand” Versi Bursa

Fenomena saham yang reli beruntun biasanya terjadi ketika atensi pasar bertemu dengan tekanan pasokan saham yang terbatas di pasar,
lalu diperkuat oleh narasi tertentu, momentum perdagangan, dan ekspektasi investor terhadap prospek bisnis.
Dalam kasus RLCO, kombinasi “rekor ARA”, kabar suspensi dan FCA, plus cerita ekspor dan pertumbuhan kinerja, membuat saham ini menjadi magnet percakapan.

Meski begitu, pasar tetap bergerak dinamis. Pergerakan tajam, baik naik maupun turun, selalu menuntut investor untuk memahami mekanisme perdagangan,
memperhatikan keterbukaan informasi, dan memantau risiko volatilitas yang bisa muncul kapan saja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top